Date:

Share:

Gontor dan I’dad

Related Articles

Belajar Adalah I'dad Menghadapi Ujian
Belajar Adalah I’dad Menghadapi Ujian

Gontor mengajari santri-santri untuk mempersiapkan diri dalam segala hal. Sebagaimana kata Pak Zar, “Lebih baik tidak berbuat sesuatu daripada tidak dipersiapkan lebih dahulu dengan matang.” Memang, kegagalan bisa dengan mudah menghampiri setiap orang yang berbuat tanpa persiapan. Akhirnya, ia hanya membuang-buang waktu dan tenaga, menyia-nyiakan kesempatan untuk meraih keberhasilan. Tanpa persiapan, hasil yang diraih tentu tidak akan sesuai harapan. Inilah yang tidak dikehendaki Pak Zar. Bagi Gontor, tidak ada hal yang remeh, semuanya penting dan harus selalu dilakukan dengan persiapan sebaik-baiknya.

Pentingnya persiapan ibarat seorang musafir yang mau mengadakan perjalanan, tentunya ia harus mempersiapkan bekal terlebih dahulu. Jika tidak, bisa saja ia kehilangan kesempatan untuk sampai ke tempat tujuan. “Man ‘arafa bu’da as-safari, ista’adda.” Kata-kata hikmah ini sering didengar oleh santri di Pondok Modern Darussalam Gontor. Maknanya, orang yang menyadari betapa jauhnya perjalanan yang ditempuh, tentu ia bersiap-siap terlebih dahulu. Jika seorang musafir sampai kehabisan bekal di tengah perjalanan, sedangkan ketika itu ia berada di padang pasir nan tandus tanpa air minum dan makanan sedikit pun, serta jauh dari pemukiman, maka ia akan kehilangan tenaga, tak berdaya, dan akhirnya harus berpisah dengan dunia.

Karena itulah, Gontor mendidik santri-santri untuk selalu membuat i’dad sebelum melakukan apa saja. I’dad itu berarti persiapan. Membuat i’dad berarti membekali diri dengan segala persiapan yang dibutuhkan untuk melakukan sesuatu, agar meraih hasil maksimal. Salah satu contohnya adalah pembuatan i’dad sebelum mengajar bagi guru-guru, i’dad sebelum berpidato bagi santri-santri, i’dad sebelum ceramah, i’dad  sebelum menyambut tamu, hingga belajar pun termasuk i’dad sebelum mengikuti ujian. Bahkan, seorang Pak Zar saja tidak pernah lupa membawa i’dad ketika berbicara di hadapan santri-santri. Biasanya, beliau selalu membawa catatan kecil di tangan saat naik ke podium. Itulah i’dad Pak Zar yang tak pernah ketinggalan.

“Seandainya mereka mengetahui persiapan saya yang sangat luar biasa, maka mereka tidak akan pernah heran dengan hasilnya. Jika kalian hendak berpidato tanpa persiapan yang matang, maka kalian adalah orang sombong dan orang sombong tidak akan sukses,” demikian kata K.H. Imam Zarkasyi, salah satu Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, yang akrab dipanggil Pak Zar itu.

Gontor tidak pernah menganut prinsip “asal jadi” atau “yang penting jadi”. Acara apapun di Gontor dipersiapkan semaksimal mungkin. Panitianya dibentuk, pekerjaannya dipantau dan dievaluasi, segala kekurangan yang ada dilengkapi, hingga acara itu benar-benar siap untuk dilaksanakan. Inilah Gontor dengan segala kesungguhannya. Santri-santrinya selalu siap sedia, ikhlas bekerja, tulus berbuat, senang beramal, dan selalu berusaha meraih hasil maksimal.

Karena i’dad pulalah, seorang Pak Zar, tanpa gelar profesor, telah menjadi profesor di bidang bahasa Arab. Bahkan, hal ini diakui oleh para pakar di bidang bahasa Arab. Padahal, K.H. Imam Zarkasyi tidak pernah sekalipun belajar ke luar negeri. Beliau hanya belajar bahasa Arab di Indonesia. Hanya saja, Pak Zar telah bertahun-tahun mengajar santri dengan persiapan yang matang.

Ceritanya, saat beliau mendapatkan kesempatan mengikuti Muktamar Umat Islam Sedunia di Kairo, Mesir, pada tahun 1972, atas pilihan Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. A. Mukti Ali. Pesertanya berasal dari berbagai negara, terutama negara-negara Islam. Pada saat beliau mendapatkan giliran berpidato untuk menyampaikan pemikirannya, beliau berbicara menggunakan bahasa Arab yang sangat baik dan fasih. Beliau menyampaikan tentang aliran kebatinan di Indonesia dan berbicara mengenai pentingnya bahasa Arab untuk diresmikan sebagai bahasa persatuan umat Islam sedunia.

Pada saat itulah para peserta muktamar terkagum-kagum kepada seorang Pak Zar. Mereka terperangah menyaksikan seorang delegasi dari negara non-Arab, berpenampilan sederhana, namun rapi berbicara tentang bahasa Arab dengan begitu fasih. Akhirnya, beliau diberikan waktu berbicara lebih lama daripada seharusnya karena sang moderator pun dibuat kagum oleh beliau.

Setelah sidang selesai, orang-orang berkerumun mengelilingi Pak Zar. Mereka menyatakan simpati dan memuji pemikiran sekaligus kemampuan bahasa Arab beliau. Banyak di antara mereka yang menanyakan asal beliau, bagaimana cara beliau belajar bahasa Arab, bahkan banyak yang menanyakan di negara Arab mana beliau belajar. Dengan sabar dan rendah hati disertai sikap khas Gontor-nya, beliau menjawab apa adanya, bahwa beliau belajar bahasa Arab di Indonesia, kepada seorang pelarian politik asal Tunisia, dan tidak pernah belajar bahasa Arab di negara Arab manapun juga. Di dalam hati, beliau menjawab, “Saya belajar di depan santri alias dengan cara mengajar, menjadi guru di Gontor berpuluh tahun dengan i’dad sebaik-baiknya, sesempurna-sempurnanya.”

Melihat kemampuan Pak Zar dan mendengar jawaban dari beliau, Abdul Halim Mahmud, Syekh Azhar ketika itu, juga memuji-muji Pak Zar. Akhirnya, beberapa tahun kemudian setelah itu, tepatnya pada tahun 1976, Syekh Azhar tersebut menyempatkan diri berkunjung ke Gontor untuk melihat langsung tempat K.H. Imam Zarkasyi mengajar dan berjuang. Selain itu, Radio Mesir juga sempat mengadakan wawancara khusus dengan Pak Zar dalam sebuah programnya yang cukup panjang. Lebih dari itu, pidato yang disampaikan beliau pada muktamar itu dimuat lengkap dalam berbagai media massa internasional, serta dalam berbagai bahasa, seperti Arab, Inggris, dan Prancis.

Demikianlah cerita tentang Pak Zar yang bahasa Arab-nya begitu dikagumi orang-orang hebat dari luar negeri. Mereka tidak tahu, mengajar dengan i’dad itulah yang telah menjadikan Pak Zar orang hebat. Maka, Pak Zar berpesan, “Kalau mengajar itu dengan cara yang baik, dengan i’dad yang betul; gurunya di muka kelas selalu berbesar hati, tidak nguncis di depan murid. Maka, muridnya akan menjadi asyik, tambah ingin tahu, tambah cinta kepada ilmu.” elk

 

Popular Articles