K.H. Muhammad Sholihin dalam Kenangan Reviewed by Momizat on . Setelah ditinggalkan salah satu anggotanya hampir setahun silam, KH. Sutadji Tadjuddin Allah yarham, Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor kini kembali di Setelah ditinggalkan salah satu anggotanya hampir setahun silam, KH. Sutadji Tadjuddin Allah yarham, Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor kini kembali di Rating:
You Are Here: Home » Berita » K.H. Muhammad Sholihin dalam Kenangan

K.H. Muhammad Sholihin dalam Kenangan

Setelah ditinggalkan salah satu anggotanya hampir setahun silam, KH. Sutadji Tadjuddin Allah yarham, Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor kini kembali dirundung duka yang mendalam. Salah satu kader terbaik Pondok Modern Darussalam Gontor yang merupakan ketua Badan Wakaf, K.H. Muhammad Sholihin, dipanggil Allah SWT untuk menghadap-Nya pada Senin sore, 14 Maret 2011 lalu. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Trimurti yang bertempat di kampus Pondok Modern Darussalam Gontor setelah dishalatkan seluruh santri se-Darussalam keesokan harinya, Selasa (15/3), di Masjid Jami’.

Menurut penuturan pihak keluarga, seminggu sebelum meninggal, tepatnya sejak hari Jum’at, 4 Maret 2011, beliau mulai dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta dengan keluhan sesak napas. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit beliau akhirnya mengalami kemajuan dan terlihat mulai membaik. Sehingga seluruh anggota keluarga yang merawat pun berharap beliau cepat sembuh dan bisa kembali pulang ke rumah.

Maka, melihat kondisi beliau tersebut, sehari sebelum beliau meninggal, Ahad (13/3), dokter mencoba melepas oksigen ventilator untuk memastikan bahwa beliau sudah semakin membaik dan siap dipindahkan dari ruang ICU ke ruang inap rumah sakit. Namun demikian, setelah enam jam berlalu oksigen ventilator kembali dipasang karena yang bersangkutan kembali mengalami sesak napas. Bahkan, dokter berencana menggantinya dengan pemberian bantuan oksigen melalui lubang yang dibuat di sekitar leher jika mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga. Akan tetapi, sebelum tindakan ini dilakukan, suami dari Hj. Sri Amani yang memiliki delapan orang putra dan putri ini akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah dirawat selama 10 hari di rumah sakit dengan akibat gagal jantung. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

K.H. Muhammad Sholihin termasuk generasi awal Pondok Modern Darussalam Gontor yang berhasil menyelesaikan studinya di Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor pada tahun 1938 silam. Beliau lahir di Ponorogo pada tanggal 9 Maret 1924 dan sempat menimba ilmu di HIS Ponorogo sebelum menjadi santri Gontor. Berbekal ilmu yang didapatkan dari Gontor, beliau berhasil meraih gelar Sarjana Muda Hukum di UII Yogyakarta.

Selain untuk kemajuan Gontor, dedikasi beliau untuk kemajuan umat Islam juga tidak perlu diragukan lagi. Beliaulah pencetus terbentuknya organisasi alumni Gontor yang dikenal dengan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM). Beliau juga sempat berkecimpung di Departemen Agama RI dan pernah menjadi peserta Konferensi Islam Asia-Afrika di Bandung dan diberi amanat sebagai anggota DPRD Kota Yogyakarta.

Di samping itu, penasihat Yayasan Tunas Melati yang pernah menjadi juri MTQ Nasional ini sangat peduli terhadap kaum tunanetra. Beliaulah yang mendirikan sekaligus menjadi ketua Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam Yogyakarta semenjak tahun 1964 hingga 2011. Tidak hanya itu, K.H. Muhammad Sholihin dikenal sebagai pencetus penerbitan Alquran Braille di Indonesia yang dikhususkan untuk para tunanetra. Dengan demikian, beliau pernah mendapatkan penghargaan dari Departemen Sosial sebagai pekerja sosial. Di dunia pendidikan beliau juga aktif dengan menjabat sebagai ketua Yayasan Perguruan Tinggi Universitas Cokro Aminoto Yogyakarta. Sedangkan di dunia politik beliau merupakan ketua Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).